Beranda News Lokal LBH Temanggung Peringati Harlah NU Lewat Penguatan Literasi Media Siber

LBH Temanggung Peringati Harlah NU Lewat Penguatan Literasi Media Siber

0
BERBAGI

Temanggung, (harianwonogiri.com) – Dalam rangka memberi memperingati Harlah NU ke 92, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Temanggung menggelar pelatihan jurnalistik media siber dengan tujuan untuk meningkatkan wawasan jurnalistik dan literasi media siber yang menghadirkan Hamidulloh Ibda dosen STAINU Temanggung.

Pihaknya, dalam pelatihan itu menyampaikan materi dasar-dasar jurnalistik dan literasi media siber kepada jajaran pengurus Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Temanggung di pada Rabu malam (31/1/2018) di Jalan Genie Tentara No. 27 Pikatan, Mudal, Temanggung.

Saat mengawali acara, M Jamal SH MH mengatakan bahwa tujuan acara itu untuk meningkatkan kapasitas pengurus dan anggota LBH agar melek media dalam sudut pandang hukum.

“Acara ini paling dasar agar semua aktivis hukum melek jurnalistik dan bisa minimal menulis berita,” beber kandidat doktor UII Jogjakarta itu.

Sementara itu, saat menyampaikan materi, Hamidulloh Ibda menyampaikan beberapa point. Mulai dari peran dan fungsi media, pers dan juga bagaimana cara untuk menulis berita. “Paling dasar itu adalah mengenal apa beda informasi, isu dan berita serta perusahaan pers dan organisasi pers,” beber Kaprodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) STAINU Temanggung itu.

Informasi itu belum tentu berita, kata dia, tapi kalau berita pasti ada unsur informasinya. “Anda juga harus membedakan perbedaan mendasar antara opini dan berita. Kalau dalam berita haram ada opini tapi kalau dalam opini boleh ada beritanya atau data yang dibutuhkan,” lanjut penulis buku Media Literasi Sekolah tersebut.

Kalau perusahaan pers, kata Ibda, itu perusahaannya atau medianya kayak contoh Kompas, Jawa Pos, Sindo, Tempo, Suara Merdeka, Harian Jateng dan lainnya. “Kalau organisasi pers ya misal PWI, AJI, AWPI dan lainnya,” tukas dia.

Pengurus Bidang Literasi Media Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Jateng itu juga menegaskan, bahwa kalau mau benar-benar menegakkan fungsi dan peran pers. “Mulai dari fungsi informasi, edukasi, kontrol dan hiburan,” beber dia.

Sebelum praktik menulis berita, ia menjelaskan bahwa unsur 5W+1H saat ini tidak cukup dan harus ditambah menjadi 6W+1H. “Mulai dari what, when, where, who, why dan satunya waw ditambah how,” beber pria kelahiran Pati itu.

Pengajar Bahasa Indonesia Lanjutan ini juga menjelaskan bahwa pelaku jurnalisme minimal memegang teguh 9 bahkan 10 ayat jurnalisme yang diteorikan oleh Bill Kovach. “Wartawan itu bukan profesi istimewa. Kapasitasnya hanya mencari, menulis, mengolah dan memberitakan. Ia bukan penyidik karena hanya sekadar wawancara dan klarifikasi. Tapi semua peradaban dan informasi itu semua ada pada pewarta. Benar salah dan baik buruk, serta indah tidak indah ada di tangan wartawan,” beber penulis buku Sing Penting NUlis Terus itu.

Di akhir acara, semua peserta praktik menulis berita dan bisa membuat angle berita yang menarik dan mereka diajak berperan aktif untuk menyebarkan kebaikan lewat berita. “Kapasitas pewarta itu adalah membangun opini di masyarakat lewat berita, maka ya harus menjunjung tinggi logika, etika dan estetika sebuah berita,” pungkas dia. (red)

 

LEAVE A REPLY

18 − 13 =