Ekstradisi Maria Pauline, BNI Harap Uang Rp1,7 T Kembali

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI berharap ekstradisi pembobolan dana mereka Maria Pauline Lumowa dari Serbia ke Indonesia bisa mengembalikan kerugian perusahaan yang mencapai Rp1,7 triliun.
“Bagi BNI adanya proses hukum terhadap Maria berpotensi mendapatkan recovery mengurangi kerugian perusahaan,” ungkap Direktur Human Capital & Kepatuhan BNI Bob T Anta dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (9/7).

Ia bilang perusahaan siap mengikuti proses hukum yang berjalan agar kasus pembobolan yang dilakukan Maria bisa tuntas. Manajemen akan berupaya membantu aparat penegak hukum untuk tahapan selanjutnya. “Proses hukum bisa dilanjutkan hingga tuntas. Tersangka juga dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai hukum dan ketentuan yang berlaku di Indonesia,” terang Bob.

Untuk mencegah peristiwa pembobolan lagi di kemudian hari, Bob menyatakan perusahaan telah melakukan evaluasi terhadap tata kelola layanan pemrosesan Letter of Credit (L/C) untuk menemukan modus yang digunakan Maria. Dengan evaluasi itu, manajemen pun menyiapkan sejumlah langkah.

“Ada beberapa langkah yang dilakukan yaitu pengalihan kewenangan memutus transaksi L/C yang pada awalnya berada di kantor cabang utama dialihkan ke trade processing center (TPC) di divisi internasional,” jelas Bob. Kemudian, manajemen mengubah fungsi kantor cabang dalam layanan pemrosesan L/C. Kantor cabang kini hanya berfungsi melakukan penerimaan permohonan transaksi trade dari nasabah, sedangkan keputusan transaksinya menjadi tanggung jawab tim di kantor pusat.

“Kini prosesnya menjadi jauh lebih aman, baik bagi perusahaan maupun bagi nasabah karena telah dilakukan digitalisasi layanan,” ucap Bob.

Maria adalah salah satu tersangka pelaku pembobolan kas Bank BNI cabang Kebayoran Baru lewat Letter of Credit (L/C) fiktif. Kasus pembobolan bermula saat BNI mengucurkan pinjaman senilai US$136 juta dan 56 juta euro kepada PT Gramarindo Group pada Oktober 2002 hingga Juli 2003 silam. Perusahaan itu merupakan milik Maria.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *